TAWADHU’
Gambaran Keagungan Jiwa
Assalamu’alaikum, Sobat Karisma!! Di edisi ini kita akan membahas tentang sifat tawadhu.Tawadhu’ adalah lawan daripada sifat sombong. Ia berasal dari lafad Adl-Dla’a yang berarti rendah hati dan lemah lembut terhadap sesama manusia. Namun, tidak semua sikap merendahkan diri dikatakan tawadhu’. Ada sikap merendahkan diri yang dibenci oleh Rasulullah SAW, bahkan dianggap sebagai amalan yang kontra dengan keimanan. Dalam sebuah hadist Rasulullah SAW bersabda : “Barang siapa yang menghinakan dirinya dengan suka rela, tanpa terpaksa, maka ia bukan dari (golongan)ku”. (H.R. Thabrani).
Untuk lebih jelasnya, ada beberapa sikap dan perilaku yang menjadi indikator sifat tawadhu’, antara lain :
1. Mau mengaku kesalahan dan kekurangan diri, meski hal itu dapat mengancam reputasinya. Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa Umar bin Khattab r.a. berpidato untuk membatasi mahar wanita. Kemudian sorang wanita berdiri dan berkata, “Wahai Umar, apa urusanmu dengan mahar kami, padahal Allah SWT berfirman,’….. Sedang kamu telah memberikan kepada seorang diantara mereka harta yang banyak…..’ (An-Nisa : 20)”. Menanggapi itu Umar r.a. berkata, “Benarlah wanita itu dan Umar salah. Semua orang lebih fiqih dari Umar.”
2. Mudah menerima nasihat dari siapa pun juga dan berterima kasih kepada orang yang memberikan nasihat, meski nasihat itu disampaikan dengan cara yang kurang baik.
3. Tidak suka menghina orang lain karena kekurangannya, baik dalam urusan dunia maupun urusan agama. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum lainnya (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok)……” (Al Hujarat : 11)
4. Tidak menyukai orang yang berdiri untuk memberi penghormatan kepadanya. Para ‘ulama menyatakan, “Dianjurkan berdiri untuk menghormati kedua orang tua, pemimpin yang adil, dan orang-orang yang terhormat. Ini dianjurkan untuk orang yang berdiri memberi penghormatan. Namun, orang yang diberi penghormatan, hendaklah membenci hal tersebut dan menganggap bahwa ia tidak berhak mendapat perlakuan seperti itu.
5. Tidak suka ada orang yang berjalan di belakangnya (mengikutinya). Abu Drda’ berkata, “Seorang akan jauh dari Allah selama (ia menyukai) orang yang berjalan di belakangnya.”
6. Tidak merasa jijik duduk dengan orang-orang yang cacat, miskin, dan berkelas sosial rendah.
7. Bergaul dengan seluruh lapisan masyarakat dan tidak berpaling dari mereka, serta melunakkan suara bila berbicara dengan mereka.
8. Menyayangi orang-orang lemah, seperti : para janda, anak-anak, kaum fakir miskin, dll. Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Ans bin Malik r.a. bahwa ia melewati beberapa anak kecil lantas mengucapkan salam kepada mereka, kemudian ia berkata, “Adalah Rasulullah SAW melakukan hal tersebut.”
9. Suka membantu keluarga mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah, seperti manjahit pakaian, mencuci, bersih-bersih, dan lain sebagainya.
10. Memulai mengucapkan salam bila bertemu dengan muslim lain, mudah memaafkan, mudah menerima udzur dari orang yang melakukan kesalahan dan lain sebagainya.
Nah, itu sedikit gambaran mengenai orang yang tawadhu’. Sekarang giliran kita untuk mengamalkannya.
“Beruntunglah orang yang tawadhu’ tanpa cacat dan merendahkan diri tanpa menghinakannya.” (HR. Thabrani).