Al Auza’iy dan Penguasa
Abdullah bin Ali Al Abbasy menaklukkan kota Damaskus. Keangkuhannya bahkan membuatnya tak pernah tersenyum. Dalam sesaat ia membunuh sekitar 36.000 muslim. Baghol dan kuda dikandangkan di dalam Masjid Jami’ Bani Umayyah. Ia duduk dikelilingi banyak orang, kepada para menterinya ia bersuara lantang, “Adakah yang menentangku ?”, tanyanya angkuh. “Tidak!!” jawab para menterinya. “Apakah menurut kalian ada yang mungkin menentangku ?” tanyanya lagi mencari kemungkinan. “Kalaulah ada dialah Al Auza’iy” terka para menteri. “Panggil dia kemari !!” perintahnya.
Para tentara kemudian segera menjemput Al Auza’iy. Ulama karismatik itu tak beranjak dari tempat duduknya. “Abbdullah bin Ali memanggilmu !!” teriak para tentara. “Hasbunallah wabi’mal wakil, tunggu sebentar !” jawabnya penuh percaya hati dan tawakal.
Al Auza’iy bergegas memenuhi panggilan. Ia mandi dan memakai kain kafan, disusul baju pada lapisan luar. Ia sadar, persoalan berat terhampar didepan mata. Persoalan yang terkait dengan kematian, pembunuhan dan pertumpahan darah. Al Auza’iy bergumam, “Sekaranglah waktunya wahai Al Auza’iy uantuk menyampaikan kebenaran, janganlah engkau takut pada celaan para pencela jika kau ada dijalan Allah !.”
Al Auza’iy masuk dan mendapati para tentara berjajar dua shof seperti tiang sambil menghunuskan pedang. Ia pun lewat dibawah pedang-pedang itu dan sampailah ia dihadapan Abdullah bin Ali. Dia duduk diatas singgasana sambil menenteng tombak. Keningnya berkerut marah. Al Auza’iy sama sekali tidak ingat sesuatu pun, baik keluarga, harta maupun istri. Yang ia ingat hanyalah Arsy Ar Rahman ketika ditampakkan bagi manusia di hari hisab.
Abdullah berkata “ Wahai Al Auza’iy, apa pendapatmu tentang darah yang kami tumpahkan dan kami alirkan ?” Al Auza’iy menjawab “Telah menyampaikan kepada kami si fulan…telah menyampaikan kepada kami Ibnu Mas’ud bahwa Rasulullah SAW bersabda “Tidaklah halal darah seseorang muslim yang bersaksi bahwa tiada Illah selain Allah dan aku adalah Rasulullah, kecuali karena 3 perkara, seorang yang telah menikah lalu berzina, qisosh (hukuman bagi orang yang membunuh orang lain) dan orang yang meninggalkan diennya (murtad), keluar dari jama’ah”. Maka jika orang-orang yang telah kau bunuh termasuk salah satu dari ketiganya, engkau benar. Tetapi jika salah, maka darah mereka menjadi tanggunganmu!”
Raja menjatuhkan tombaknya, dan Al Auza’iy mengangkat sorban menunggu tebasan pedang. Abdullah bin Ali bertanya, “Lalu bagaimana pendapatmu tentang harta kekayaan ?” Ia pun menjawab, “Jika halal akan dihisab, jika haram akan diiqab (dibalas)!!”
“Ambillah bungkusan ini” perintahnya sambil menyodorkan kantong penuh emas. “Aku tidak butuh harta!!” jawab Al Auza’iy. Seorang menteri membujuknya untuk menerimanya agar raja tidak memiliki alasan untuk membunuhnya. Ia memungut kantong tersebut dan dibagikan isinya kepada seluruh tentara sampai habis, lalu kantong itu dibuan. “Hasbunalla wani’mal wakil!!”
0 comments:
Post a Comment