Realita dan Seni Dalam Dakwah Zaman Modern
“ Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musryik.”
Setelah melihat dan membaca petikan ayat Al-Qur’an di atas, antum dan antunna sekalian pasti sudah taukan tema pada edisi kali ini ?? Benar, tema kali ini adalah Dakwah. Ana yakin antum dan antunna sekalian dah ngetri maksud ayat di atas, begitu juga dengan sebab musabab turunnya ayat tersebut. Ayat diatas amatlah sederhana, namun dalam pelaksanaannya tidaklah sesederhana itu.
Sebelum membahas “ ngalor-ngidul “ tentang Dakwah, kiranya perlu sekali mengerti apa itu Dakwah. Definisi umumnya, Dakwah adalah berjihad ( berjuang geto...)
Dengan jalan menyampaikan dan menyeru (mengajak) pada amar ma’ruf nahi munkar. Yang perlu ditegaskan di sini ialah penyampaian, yaitu bukan asal menyampaikan tanpa memperhatikan tata cara seperti yang pernah dicontohkan Rasulullah SAW.
Di zaman modern seperti ini, Dakwah dan beragam medianya juga lebih modern . sekarang Dakwah sudah bisa kita akses via internet maupun SMS (Wuiiih.....canggih bener!!!). Bisa kita dengarkan melalui radio, melihat tayangan di TV atau kajian-kajian yang diadakan di sekeliling kita, serta tidak lupa pula melalui media tulisan. Sehingga bisa dikatakan kalau Dakwah masa kini sangat terang-terangan.
Meskipun demikian, semakin tinggi pohon semakin kencang angin meniupnya. Dakwah bukan tanpa hambatan. Walau media Dakwah sekarang semakin beragam dan gencar, ”Westernisasi” tetap melanda bahkan dengan arus lebih kuat. Cukup terbukti dengan menyaksikan tingkah polah dan gaya hidup masyarakat terutama pelajar sekolah. Lha, wong frekuensi antara menyaksikan “westernisasi” dengan mendengarkan petuah Ilahi kurang imbang seehh....
Sobat Karisma, setelah keluhan itu membahas sedikit realita dan Dakwah di sekitar kita, mungkin ada keluhan yang kerap kita alami (entah sengaja atau tidak terbesit di benak kita). Keluhan itu antaranya :
1) Menerima metode yang sama dari generasi ke generasi.
2) Mengkaji hal sama dari waktu ke waktu tanpa merasakan ilmu “Baru”.
3) Kadang merasa kurang internatif dalam suatu kajian.
4) Terkesan acak-acakan, “ngalor-ngidul” yang entah “ngalor-ngidul”nya ke mana.
Dan pada akhirnya, semua keluhan itu bermuara pada satu kata. BOSAN . Antum dam antunna sekalian, rasa bosan tersebut bsa diminimalisir ato bahkan bisa dihilangkan kalau énte mau aktif mengikuti berbagai kajian dari sumber yang berbeda dan melalui apa énte bisa menikmati kajian (seperti yang sudah disinggung di atas, banyak sekali media Dakwah yang bisa kita nikmati). Setelah énte mersa “enjoy” maka ikuti secara rutin (kontinyu_red). Nah, antum dan atunna udah tau bagaimana kita menjadi obyek Dakwah.
Lalu, berdakwah itu sendiri jangan diartikan sempit denagn menyamakannya dengan ceramah/menjadi pembicara atau semacamnya. Kalau antum dan antunna berbagi (sharing) ilmu agama dan kawan-kawan itu juga sudah cukup bisa dikatakan Dakwah (seperti Rasulullah SAW saat masih berdakwah secara sembunyi-sembunyi). Rasulullah mencontohkan bahwa Dakwah tidak boleh memaksa bahkan tdak boleh diwarnai kekerasan. Dengan cara yang halus dan sopan dan tanpa dibubuhi ejekan pada kaum lain. “Rasulullah selalu mengulangi perkataannya sebanyak tiga kali agar dapat dipahami.” (H.R: Bukhari)
Nah sobat Karisma dah taw lebih jauh tentang Dakwah. Kita menerima ilmunya dahulu baru disampaikan. Bukan sebaliknya. Sebab dakwah sungguh berguna besar dalam mendidik generasi penerus agar punya akidah agama yang lebih keras dari baja. Dakwah adalah jalan pendidikan paling efektif ketika kekerasan dianggap melanggar HAM. Jazakumullah Khairan Katsiran.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment