DALAM MENGUJI GUBERNUR
Umar bin Khattab sering anjangsana ke lapangan untuk menguji kineja para gubernurnya saat mereka sedang menjabat. Umar menanyakan langsung kepada rakyat tentang pribadi para gubernurnya dan kelayakan mereeka memegang kendali pemerintahan.
Suatu hari Umar pergi ke wilayah Hamash dan saat itu Sa’id Ibn ‘Amir al-Jamahi menjadi gubernur diwilayah itu. Umarpun mengumpulkan rakyat Hamash dan bertanya pendapat mereka,”Wahai penduduk Hamash,apa pendapat kalian mengenai gubernur kalian ?” Mereka menjawab, “Kami protes kepadanya karena empat perkara, yaitu : Pertama, dia tidak keluar menemui kami hingga siang hari tiba. Kedua, dia tidak menerima seorangpun dimalam hari, Ketiga, ada satu hari dalam satu bulan dimana ia tidak menemui. Keempat, ia sering tidak sadarkan diri yang membuat dirinya seolah-olah antara hidup dan mati.”
Mendengar keluhan mereka, tidak ada pilihan bagi Umar kecuali mempertemukan Sa’id Ibn ‘Amir dengan mereka. Umar berdoa ,”Ya Allah janganlah Engkau ubah penilaianku kepadanya.” Setelah Sa’id mendengar pengaduan atas dirinya, ia menjawab keluhan mereka,”Aku tidak keluar menemui mereka hingga menjelang siang, karena keluargaku tidak mempunyai seorang pembantu, sehingga aku harus membuat adonan roti dengan tanganku sendiri hingga adonan itu halus. Kemudian aku memasaknya menjadi roti. Setelah itu aku berwudlu dan keluar menemui mereka.
Aku tidak menemui seorang pun di malam hari karena aku menjadikan siang hari untuk rakyatku dan menjadikan malam untuk Allah Azza wa Jalla. Aku mengambil cuti satu hari dalam sebulan karena aku tidak punya pembantu yang bisa mencucikan pakaian. Aku tidak punya pakaian lain untuk diganti sehingga aku harus menunggu pakaianku sampai kering agar dapat aku pakai dan aku baru bisa keluar pada akhir siang [sore]. Aku sering tak sadarkan diri antara hidup dan mati, sebab aku teringat pada suatu peristiwa yang sangat mengesankan.
Aku dulu menyaksikan kematian Khabib Ibnu Uday Al-Anshari. Sungguh orang-orang Quraisy telah menyayat dagingnya kemudian mereka menggantungnya diatas dahan pohon. Mereka menyiksa habis-habisan supaya dia bersedia kafir dengan risalah Muhammad saw. Mereka berkata kepadanya,”Apakah kamu ingin Muhammad yang kamu imani agamanya kami perlakukan seperti dirimu? Ia menjawab dengan lantang, ”Demi Allah, aku tidak ingin hidup diantara keluargaku, jika aku melihat Muhammad saw mengaduh walau hanya karena sakit pada jari-jemarinya.”
Setiap aku mengingat peristiwa yang mengenaskan itu, merasakan rintihan penderitaannya, sedangkan aku tidak mampu berbuat apapun untuk menolong Khabib, karena pada saat itu aku dalam keadaan musyrik, tidak beriman kepada Allah yang Maha Agung dan Nabi-Nya yang mulia, sampai-sampai aku berpikir bahwa Allah tidak akan mengampuni dosaku untuk selamanya karena aku membiarkan peristiwa itu terjadi. Saat aku teringat semua itu aku pingsan tidak sadarkan diri. “Mendengar cerita Sa’id, Umar berkata, ”Segala puji bagi Allah yang tidak mengubah penilaianku atau pandanganku terhadap dirimu.”
No comments:
Post a Comment