Thursday, May 3, 2007

FIQIH


AGAR DOA LEBIH BERMAKNA

DAN DAPAT DIKABULKAN OLEH SANG PENCIPTA

Sobat karisma yang mulia, pasti dapat ana pastikan bahwa setiap hari sobat karisma berdoa. Apapun alasan sobat untuk berdoa, namun kesemuanya itu akan bermuara kepada satu arah yaitu doa dapat mendekatkan kita kepada sang pencipta dan doa adalah sarana harapan dan ampunan dari Sang Pencipta. Selain itu pasti sobat karisma sekalian berharap doanya dapat dikabulkan, benar kan? Nah, agar peluang doa sobat karisma dapat dikabulkan atau lebih mustajab maka sobat perlu memperhatikan beberapa hal, antara lain sebagai berikut:

1. memilih waktu–waktu yang mustajab untuk berdoa.

Berdoa memang disyariatkan dalam segala kondisi. Akan tetapi, ada saat–saat istimewa yang paling mustajab. Waktu-waktu itu antara lain:

- sepertiga malam terakhir

- penghujung waktu sholat

- antara adzan dan iqomah

- saat bersujud

2. Memanfaatkan situasi yang mustajab dalam berdoa.

Sobat karisma, dalam mengarungi perjalanan di dunia ini pasti banyak hal–hal yang kita jalani. Berbagai macam situasi dan keadaan telah kita lalui. Dan diantara situasi–situasi tersebut ada kesempatan yang baik untuk memanjatkan doa, antara lain:

- saat safar atau bepergian

- saat shaum hingga berbuka

- saat berhaji maupun umroh

3. Mengangkat tangan saat berdoa.

Mengangkat tangan yang berdoa merupakan adab yang baik dalam berdoa, juga merupakan faktor yang memepengaruhi terhadap terkabulnya doa. Hal ini sesuai dengan Sabda Nabi Muhammad SAW: “Sesungguhnya Robb kalian Tabaraka wa Ta’ala Maha Pemalu lagi Maha Pemurah, Dia maha malu terhadap hamba-Nya jika ia mengangkat kedua tangannya meminta kepadaNya lalu ia mengembalikan keduanya dalam keadaan hampa. (HR. Abu Dawud)

4. Mengiringi dengan Amal sholeh.

Hal ini berkaitan dengan orang yang beramal salih dapat semakin dekat dengan Allah dan dicintai oleh Allah. Dan orang yang dicintai oleh Allah kemungkinan doanya untuk dikabulkan sangat besar. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW : “Kenalilah Allah saat lapang, niscaya Dia akan mengenal atau menolongmu disaat sempit” (HR. Tirmidzi). Dalam hadist ini dimaksudkan bahwa bila kita disaat lapang memperbanyak amal kita dan mendekatkan diri kepada Allah maka Allah akan mengabulkan doa kita disaat sempit, sebagai bentuk pertolongan allah kepada kita.

5. Tidak meninggalkan ikhtiar.

Sobat sekalian juga sudah tahu bahwa Sunnatullah yang berlaku, walaupun doa mempunyai peran yang dominan untuk mencapai tujuan, ikhtiar tidak dapat tinggalkan. Ini juga bermakna bahwa ketika raga berusaha, maka hati bertawakal kepada Allah dan harus disertai dengan Doa kepadaNya.

6. Mengakui kesalahan dan dosa.

Salah satu faktor yang mempengaruhi terkabulnya doa yang telah kita panjatkan adalah mengakui nikmat Allah atasnya, keteledoran dalam melaksanakan perintah Allah, dan kelancangannya dalam melaksanakan dosa. Pengakuan itu menunjukkan rasa takut (khouf) dan pengharapan (roja’) kepada Allah. Hal ini sebagaimana kisah Nabi Yunus dalam perut ikan yang diabadikan Allah dalam Al-Quran Surat Al-Anbiya’: 87, yang artinya. “Maka ia menyeru dalam keadaan sangat gelap :”bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah selain engkau. Maha Suci Engkau, Sesungguhnya aku adalah termasuk orang yang zalim.”

7. Optimis bahwa doanya akan dikabulkan

Allah SWT itu tergantung pada prasangka hamba-Nya. Jika seorang hamba berprasangka bahwa doanya akan dikabulkan, maka InsyaAllah Dia akan mengabulkan doa hambaNya. Hal ini sesuai dengan Hadist Qudsi: “ Allah Ta’ala berfirman: “Aku bergantung kepada prasangka hambaKu, apabila ia berprasangka baik kepada-Ku, maka baginya kebaikan, namun jika ia berprasangka buruk kepada-Ku maka baginya keburukan”. (HR.Ahmad)

8. Hanya mengkonsumsi yang halal

Hal ini berkaitan dengan kisah Sa’ad bin Abi Waqqash, sahabat Nabi yang doanya selalu dikabulkan oleh Allah SWT. Itu semua bermula ketika Sa’ad pernah meminta kepada Rosululloh untuk mendoaakan agar doanya mustajab. Sa’ad berkata: ‘Wahai rosululloh , doakan kepada Allah agar doaku mustajab” Lalu Rosululloh bersabda “Wahai Sa’ad, perbaguslah makanmu (dengan yang halal) niscaya doamu terkabul” (HR. Ath-Thabrani). Sejak itu Sa’ad selalu berhati–hati dalam memakan makanan. Alhasil Sa’ad terkenal sebagai orang yang maqbul dalam doanya.

Demikian beberapa hal yang perlu diperhatikan agar doa kita dapat dikabulkan oleh Allah SWT. Namun yang perlu kita ketahui bersama, bahwa jangan sampai kita berputus asa dalam berdoa. Bila kita sudah berdoa sekian lama namun belum dikabulkan oleh Allah SWT. Hal ini mengandung beberapa kemungkinan:

1. Bisa jadi penangguhan terkabulnya doa sebagai peringatan dari allah SWT, agar kita dapat introspeksi dan mawas diri. Mengapa doa kita belum juga dikabulkan. Apakah kita terlalu banyak maksiat dan lupa kepadaNya, atau ada sepotong makanan yang tidak halal di tubuh kita. Pada intinya kita harus terus intropeksi dan memperbaiki diri.

2. Boleh jadi Allah mengabulkan pada sisi yang lain. Karena doanya, Allah menghindarkan dari suatu keburukan yang nilainya sepadan dengan apa yang ia mohon kepada Allah dalam doanya.

3. bisa jadi Allah menangguhkannya untuk tabungan akhirat. Sehingga kebaikannya di akhirat kelak akan bertambah karena doanya yang ditangguhkan Allah.

Terkadang kita berdoa sesuatu yang baik menurut kita namun belum tentu baik menurut Allah SWT sehingga bila Allah tidak mengabulkan doa kita bukan berarti Allah tidak sayang kepada kita. Padahal Allah sangat sayang kepada kita. Sebagaimana firman-Nya dalam Q.S Al-Baqarah:216 yang artinya: ”Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”.

No comments: