Friday, May 4, 2007

FOKUS

“Mengingat Kematian”

Sebuah seni dalam mencapai kemulian hidup

“Katakanlah : Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya . maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu , kemudian kamu akan dikembalikan kepada ( Allah ) yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata. Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. ( Q. S Al- jumuah : 8)

Sobat karisma yang mulia, Mungkin hari ini adalah hari–hari yang sibuk bagi kita. Bukan hanya bagi kakak–kakak kelas XII yang sibuk menyiapkan untuk ujian sekolah atau SPMB. Namun, bagi kita kelas X dan XI yang sibuk dengan seabrek aktivitas ekstrakurikuler dan ulangan yang bertubi–tubi. Hal ini memang wajar–wajar saja bagi kita sebagai seorang siswa. Apalagi bagi antum dan antunna sekalian yang menjadi aktivis di sekolah, tak terbayang dech betapa sibuknya. But, yang pasti kita ingat bahwa tujuan utama kita hidup bukan untuk mengejar materi dunia atau prestise semata, Lebih dari itu kita hidup di dunia ini hanya untuk mengabdi kepada–Nya. Memang sih, untuk dapat beribadah kepada sang khalik tak harus duduk seharian di dalam masjid ataupun seharian penuh mengkaji ayat–ayat Nya. Tetapi yang sering dilupakan sebagian besar orang (termasuk kita) adalah menjaga keseimbangan antara urusan duniawi dan ukhrowi atau mengintegrasikan nilai–nilai islam dalam setiap aspek kehidupan kita, atau lebih tepatnya hal–hal yang kita lakukan seharian penuh kurang bernilai ibadah. Bahkan, mungkin aktivitas yang kita lakukan jauh dari apa itu ibadah atau lebih mengarah kepada maksiat.

Nah, berhubungan dengan hal itu semua diakibatkan oleh satu sebab. Atau mungkin dapat kita analogikan air yang mengalir di sungai pada dasarnya hanya berasal dari satu sumber. Benar, hal itu semua diakibatkan bahwa kita kurang dapat mengingat kematian. Mungkin bagi antum dan antunna sekalian yang sudah paham dengan agama berpandapat lain, namun kami (redaksi) punya alasan mengapa mengingat kematian punya urgensi yang sangat penting. Antara lain:

1. ingat mati berarti ingat hidup.

Mungkin antum dan antunna sekalian bertanya. Ingat mati kok ingat hidup. Jangan bingung dulu yang dimaksud disini hidup dalam artian hidup sesudah mati (hidup di akhirat kelak). Dengan mengingat kematian berarti kita selalu ingin membuat kehidupan kita kelak lebih baik daripada kehidupan di dunia. n’ otomatis hal ini mendorong kita untuk melakukan berbagai kebaikan.

2. mengingat kematian membuat kita rendah hati

Hal ini dapat kita pahami bahwa bekal yang kita bawa di akhirat kelak bukan harta tetapi amal kita. n’ harta yang kita miliki akan sirna kecuali harta yang kita sedekahkan. Selain itu orang tua, saudara kita tidak akan ada yang dapat menentukan bagaimana kita kelak. Dari hal itu semua dapat membuat kita terhindar dari pamer harta atau materi serta pamer kedudukan orang tua atau bahkan sombong. Yang pada dasarnya tiada manfaatnya untuk kehidupan kita kelak. Malah dengan mengingat kematian kita hanya terfokus pada hal–hal yang mendatangkan manfaat bagi kita.

3. mengingat kematian berarti kita terjaga

Sebelumnya hal ini dapat dijelaskan dengan satu pernyataan bahwa kemungkinan kita dapat menghembuskan nafas esok adalah 50 : 50. baik itu bagi orang tua renta ataupun muda belia seperti kita. Hal ini dapat kita analogikan dengan buah kelapa yang ada dipohon adalah hidup dan yang jatuh adalah kematian. Buah kelapa pun yang masih muda banyak yang jatuh apalagi yang sudah tua. Begitu juga dengan kematian dia akan datang kapanpun jika memang sudah waktunya. Hal ini sesuai dengan firman Nya dalam Q.S An–Nisa ayat 78 :” Dimana kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendati kamu berada dalam benteng yang tinggi lagi kokoh….”. Nah, apabila kita sudah sadar dengan hal ini pasti kita sebagai generasi muda pun turut menyiapkan bekal untuk kematian. Karena kita tidak tahu kapan ajal akan menjemput. Entah nanti, esok, lusa atau minggu depan. Pokoknya kita tetep bersiap dan terjaga menyambut datangnya izroil. Semua itu menyebabkan kita terdorong untuk melakukan amal yang baik agar bila izroil datang kita dalam keadaan baik (khusnul khotimah )

4. mengingat mati berarti kita pandai

Tahu gak orang pandai itu siapa? Jika jawabannya adalah para ilmuan dan professor. Jawabannmu mungkin benar tapi masih kurang sempurna. Karena orang pandai yang sesungguhnya adalah orang yang mengingat kematian. Hal ini dapat kita pahami sebagai berikut ketika para ilmuan belajar seharian mereka tidak mengintegerasikan denagan ibadah. Berbeda dengan orang yang mengingat kematian, Mereka selalu mengisi hari–harinya dengan hal-hal yang bernilai ibadah. Termasuk belajar, yang juga merupakan ibadah. Namun nilai belajar orang yang mengingat kematian mempunyai nilai yang tinggi karena menyangkut ibadah dan mungkin bila kedua orang tersebut melakukan penelitian yang sama akan lebih baik orang yang sering mengingat kematian karena 100% penelitiannya karena ibadah. Mungkin kalo ilmuan yang lain di barengi dengan niat mencari prestise dan profit semata.

Nah, gimana sobat karisma . dah tahu kan mengapa mengingat kematian itu penting . mungkin bila dikaji lagi seluruh lembar dalam buletin ini tak akan muat. Selain itu, juga keterbasan ilmu dari kami (redaksi). Untuk lebih lengkapnya antum dan antunna dapat membaca buku yang berkaitan dengan kematian ataupun tanya kepada guru atau ustadz yang antum kenal. Dan jangan lupa kalo dah tahu ilmunya dipraktekkan ya!

KARISMA NEWS

KARISMA NEWS

à Assalamu’alaikum Wr.Wb

Alhamdulillah, Insya Allah mulai edisi ini dan selanjutnya, Buletin Karisma tampil dengan bentuk dan format baru. Selain itu Buletin juga poenya beberapa rubrik anyar lho .... mau tau ?? yaitu Akhlaqul Karimah, Fiqih, Pengumuman-pengumuman dan info. O..ya Buletin juga masih punya rubrik baru lagi “Takon” (Tanya dan Konsultasi) yang akan ikut mengisi buletin qta tercinta ini insya Allah mulai dari edisi depan. Semoga antum dan antunna tambah semangat ya baca Buletin Karisma...

à Untuk akhi dan ukthi yang belum sempat daftar jadi anggota Permisi, gak usah khawatir.. Karisma masih membuka kesempatan pendaftaran anytime ke pengurus or anggota Karisma. So .. ayo buruan daftar, hanya Rp 500,00, antum dan antunna bisa mendapatkan buaaaaanyak ilmu. Kami tunggu ya......

à Kami mohon maaf, karena keterbatasan jumlah Buletin untuk setiap kelasnya, maka dari itu dimohon kepada akhi dan ukthi untuk memberi kesempatan pada teman-teman lain untuk membaca juga Buletin qta tercinta ini, Ok....!!

à Karena terdapat ayat suci Al Qur’an di buletin ini, maka di mohon kepada antum dan antunna untuk meletakkan buletin ini di tempat yang semestinya. Jazakumullah khairan kartsiran.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb

Thursday, May 3, 2007

Akhlakul karimah

Kemuliaan itu berasal dari amanah

Assalamualaiakum, sobat! Kaifa khaluk? Moga tetap semangat dalam menggapai ridho ilahi. Yup, ini adalah rubrik baru yang akan membimbing akhlak kita menuju akhlakul karimah. So, kita semua dapat menjadi pribadi muda yang berakhlak mulia dan menunjukkan jati diri kita sebagai muslim sejati. Bukan sekedar muslim KTP atau muslim kartu pelajar aja, tapi kita akan menjadi the real Moslem.

Nah, di edisi kita akan bahas tentang Amanah. Yah , sebuah kata yang ringan di ucapkan namun sulit untuk kita realisasikan. Mungkin sobat karisma sekalian dah tahu yang namanya amanah. That”s right! Amanah adalah dapat menyampaikan sesuatu kepada yang berhak atau dalam ruang lingkup yang lebih kecil lagi amanah adalah dapat dipercaya. N’ disamping itu semua amanah juga berarti dapat bertanggung jawab atas apa yang kita perbuat. Karena pada dasarnya segala apa yang kita lakukan di alam fana ini adalah amanah. Mulai dari waktu kita, usia kita, kesehatan kita, keterampilan kita, kecerdasan kita. Semua adalah Amanah Allah SWT yang semua itu akan dimintai pertanggungjawabannya oleh sang khalik. N’ Ana dan kita yakin pasti ketika membaca artikel ini dengan ikhlas dan niat mencari ilmu, Pada dasarnya kita juga melaksanakan amanah usia dan kesempatan kita, yang insya Allah kita telah menunaikan amanah usia dan kesempatan dengan benar. Lalu bagaimana dengan aktivitas kita yang lain , misalanya nongkrong yang tiada gunanya, bersenda gurau yang tak jelas, berduaan dengan seseorang yang bukan muhrim, malas menuntut ilmu atau menyia-nyiakan waktu yang tak jelas tujuannya, apakah itu semua yang dinamakan amanah? Atau sudah tepatkah amanah usia dan kesempatan kita laksanakan dengan baik?

Melaksanakan Amanah butuh perjuangan

Sobat karisma, bagaimana dah jelaskan apa yang dinamakan amanah baik dalam arti sempit atau luas. Pasti sobat sekalian berpikir kalau amanah itu ada disekililing kita dan berat melaksanakannya. Namun stop! La taiasu wa La tahzan (jangan putus asa dan bersedih). Kita harus tetap berusaha karena itu semua adalah bentuk ketaatan kita kepada Allah dan rosul. Selain itu bila dilihat lebih dalam itu semua adalah bentuk ibadah. Bukankah itu tugas atau misi kita sebagai manusia untuk beribadah kepadaNya. Asalkan kita ikhlas dan dengan niat yang benar melaksanakan amanah baik yang berasal dari Allah ataupun amanah dari orang lain ,InsyaAllah hal ini bukan perkara yang sulit.

Bagaimana caranya ?

Bukannya ana su’udzon, tapi mungkin sobat karisma berpikir kalo ikhlas dan niat yang benar masih solusi yang umum dan sobat sekalian ingin tahu yang lebih spesifik. Iya kan? Kalo begitu ana akan kasih tahu

1. Kita harus benar–benar yakin kalo berlaku amanah adalah kewajiban kita yang nantinya dimintai pertanggungjawabannya di akhirat kelak. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Q.S An-Nisa’ ayat 58 yang artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kalian menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya.” Dan juga sabda Rosul Saw :” “Tunaikanlah amanah kepada siapa yang memberikan amanah kepadamu, dan janganlah engkau mengkhianati orang yang mengkhianatimu.” (HR. at-Tirmîdzî)

Dengan keyakinan yang bulat , kita dapat melaksanakan amanah.

2. Tahu dan sadar akan kemampuan diri kita. Hal ini penting berkaitan dengan amanah yang menyangkut amanah keduniaan. Misalnya jika kita tahu bahwa diri kita tak mampu menjadi pemimpin di suatu organisasi, maka kita jangan ikut pencalonan, atau kita berani menolaknya bila kita diminta. Bukankah hal ini akan juga dimintai pertanggung jawabannya di akhirat kelak? Sebagaimana Rosul SAW pernah menolak permintaan Abu Dzar akan sebuah jabatan karena mengerti karakternya yang tidak sesuai dengan jabatan yang diminta. Beliau berkata, “Wahai Abu Dzar, engkau itu lemah sedang ia adalah amanah. Sesungguhnya pada hari kiamat nanti ia adalah kehinaan dan penyesalan. Kecuali siapa yang mengambilnya dengan haknya dan menunaikan (kewajian) atasnya dalam hal tersebut.”

3. Harus sportif dan dapat bekerjasama dengan orang lain. Sobat karisma,pasti tahu pepatah yang menyatakan berat sama dipikul ringan sama dijinjing. Hal itu pula berlaku pula dalam menunaikan amanah. Bila kita dapat bekerja sama dengan orang lain dan tentunya teman yang bersifat amanah. Pasti segala amanah kita dapat kita laksanakan dengan lebih ringan.

4. Kenali area dan fokus. Pasti , kita sudah dapat membedakan mana yang penting dan yang tidak. Prinsip itu pulalah yang kita lakukan dalam melaksanakan amanah. Kita harus tanggap terhadap kondisi kita dan fokus terhadap amanah yang paling penting dan fundamental. Karena ana yakin kita semua selain sebagai siswa , kita adalah anggota keluarga dan anggota masyarakat ,apalagi kalo kita aktivis. pasti amanah yang kita emban sekarang ini sangat kompleks namun waktu kita terbatas. Kalo sobat karisma dapat menggunakan prinsip dalam ekonomi yang telak kita modifikasi yaitu “dengan waktu yang sesingkat-singkatnya tunaikan amanah sebanyak–banyaknya”.

5. Jujur dan ikhlas. Memang dua sifat tersebut tak dapat dipisahkan dari amanah. Kedua sifat tersebut harus terintegrasi dalam diri kita bila kita ingin melaksanakan amanah dengan baik. Dengan sifat jujur kita akan selalu sadar akan amanah kita dan kita selalu berupaya untuk melaksanakan atau menyampaikannya. Dengan ikhlas kita dapat mengendalikan nafsu kita dan InsyaAllah godaan setan dapat diminimalisir, Bukankah setan akan jauh dari orang-orang yang ikhlas. Dengan demikian melaksanakan amanah dapat berjalan dengan mudah dan amanah tidak akan menjadi bumerang bagi kita yang dapat menjatuhkan ke lembah neraka.

Saatnya melaksanakan amanah!.

Gimana sobat? Dah tahukan seluk beluk tentang amanah? Kita sekarang kan dah tahu ilmunya, tugas kita selanjutnya adalah mengamalkannya. Karena ilmu tanpa amal bagaikan pohon berbuah, yang tiada manfaatnya. Bahkan, dapat menjadi bumerang bagi kita. Untuk mengamalkannya, Kita dapat mulai dari hal-hal kecil seperti memanfaatkan waktu dengan baik dan belajar atau menuntut ilmu dengan baik. N’ ana yakin bila kita melaksanakan amanah kita akan menjadi orang yang terpercaya dan berkridibelitas tinggi , dan InsyaAllah akan bermuara kepada kemuliaan . Selamat menunaikan amanah!

Dik Risma


Ajal Pasti Datang

Kemarin sekolah dik Risma gempar dengan meninggalnya teman sekelas di Risma. Padahal sehari sebelumnya dia masih bercanda tawa dan beraktifitas seperti biasanya. Tetapi siapa sangka hari itu adalah hari terakhirnya.

“Assalamu’alaikum” sapa dik Risma kepada Zahra temannya, tapi ia tak kunjung menjawab, sampai dik Risma mengulangi salamnya sambil menepuk bahu Zahra dan duduk di sampingnya.

“Assalamu’alaikum” salam dik Risma.

“Wa’alaikumsalam” jawab Zahra sambil tergagap.

“Ada apa Ra, kok ngelamun sampai aku ucap salam gak kunjung kamu jawab ?”

“Af1 ya Ris, aku Cuma berfikir kemarin dia yang meninggal, tapi bagaimana kalau jika detik berikutnya atau hari berikutnya giliranku?”

“Zahra, kamu tahukan, kalau hidup dan mati itu di tangan Allah ?”

“Iya sih, tapi kemarin dia masih periang, masih bercanda bersama kita, tapi kita tidak menyangka, secepat itu dia meninggalkan kita.” Jawab Zahra.

“Kita tidak boleh meratapi kematian seseorang secara berlebihan. Kita harus berusaha untuk mengikhlaskannya.” kata di Risma.

“Kamu bener Ris, tapi aku bener-bener takut, bagaimana kalau besok tiba giliranku?”

“Manusia pasti akan mati, tapi ada yang harus kita lakukan selama masih diberi kesempatan bernafas, yaitu, kita tambah keimanan kita, kita perbaiki perlakuan kita yang buruk, kita manfaatkan waktu yang kapan kita tidak bisa perkirakan akan habis.Kita harus lebih mendekatkan diri kepada Allah. Bukan karena kita takut mati dan masuk neraka, tapi karena Dia memang pantas disembah.

“Iya, berarti melamun itu gak ada gunanya ya Ris ?, lebih baik kita mendoakan agar ia diterima segala amal perbuatannya dan ditempatkan ditempat terbaik disisi-Nya, dan kita dijauhkan dari godaan syetan.”

“Iya kamu bener” Jawab dik Risma.

Kemudian merekapun pergi ke masjid karena masih jam istirahat, untuk salat Dzuhur.

FIQIH


AGAR DOA LEBIH BERMAKNA

DAN DAPAT DIKABULKAN OLEH SANG PENCIPTA

Sobat karisma yang mulia, pasti dapat ana pastikan bahwa setiap hari sobat karisma berdoa. Apapun alasan sobat untuk berdoa, namun kesemuanya itu akan bermuara kepada satu arah yaitu doa dapat mendekatkan kita kepada sang pencipta dan doa adalah sarana harapan dan ampunan dari Sang Pencipta. Selain itu pasti sobat karisma sekalian berharap doanya dapat dikabulkan, benar kan? Nah, agar peluang doa sobat karisma dapat dikabulkan atau lebih mustajab maka sobat perlu memperhatikan beberapa hal, antara lain sebagai berikut:

1. memilih waktu–waktu yang mustajab untuk berdoa.

Berdoa memang disyariatkan dalam segala kondisi. Akan tetapi, ada saat–saat istimewa yang paling mustajab. Waktu-waktu itu antara lain:

- sepertiga malam terakhir

- penghujung waktu sholat

- antara adzan dan iqomah

- saat bersujud

2. Memanfaatkan situasi yang mustajab dalam berdoa.

Sobat karisma, dalam mengarungi perjalanan di dunia ini pasti banyak hal–hal yang kita jalani. Berbagai macam situasi dan keadaan telah kita lalui. Dan diantara situasi–situasi tersebut ada kesempatan yang baik untuk memanjatkan doa, antara lain:

- saat safar atau bepergian

- saat shaum hingga berbuka

- saat berhaji maupun umroh

3. Mengangkat tangan saat berdoa.

Mengangkat tangan yang berdoa merupakan adab yang baik dalam berdoa, juga merupakan faktor yang memepengaruhi terhadap terkabulnya doa. Hal ini sesuai dengan Sabda Nabi Muhammad SAW: “Sesungguhnya Robb kalian Tabaraka wa Ta’ala Maha Pemalu lagi Maha Pemurah, Dia maha malu terhadap hamba-Nya jika ia mengangkat kedua tangannya meminta kepadaNya lalu ia mengembalikan keduanya dalam keadaan hampa. (HR. Abu Dawud)

4. Mengiringi dengan Amal sholeh.

Hal ini berkaitan dengan orang yang beramal salih dapat semakin dekat dengan Allah dan dicintai oleh Allah. Dan orang yang dicintai oleh Allah kemungkinan doanya untuk dikabulkan sangat besar. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW : “Kenalilah Allah saat lapang, niscaya Dia akan mengenal atau menolongmu disaat sempit” (HR. Tirmidzi). Dalam hadist ini dimaksudkan bahwa bila kita disaat lapang memperbanyak amal kita dan mendekatkan diri kepada Allah maka Allah akan mengabulkan doa kita disaat sempit, sebagai bentuk pertolongan allah kepada kita.

5. Tidak meninggalkan ikhtiar.

Sobat sekalian juga sudah tahu bahwa Sunnatullah yang berlaku, walaupun doa mempunyai peran yang dominan untuk mencapai tujuan, ikhtiar tidak dapat tinggalkan. Ini juga bermakna bahwa ketika raga berusaha, maka hati bertawakal kepada Allah dan harus disertai dengan Doa kepadaNya.

6. Mengakui kesalahan dan dosa.

Salah satu faktor yang mempengaruhi terkabulnya doa yang telah kita panjatkan adalah mengakui nikmat Allah atasnya, keteledoran dalam melaksanakan perintah Allah, dan kelancangannya dalam melaksanakan dosa. Pengakuan itu menunjukkan rasa takut (khouf) dan pengharapan (roja’) kepada Allah. Hal ini sebagaimana kisah Nabi Yunus dalam perut ikan yang diabadikan Allah dalam Al-Quran Surat Al-Anbiya’: 87, yang artinya. “Maka ia menyeru dalam keadaan sangat gelap :”bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah selain engkau. Maha Suci Engkau, Sesungguhnya aku adalah termasuk orang yang zalim.”

7. Optimis bahwa doanya akan dikabulkan

Allah SWT itu tergantung pada prasangka hamba-Nya. Jika seorang hamba berprasangka bahwa doanya akan dikabulkan, maka InsyaAllah Dia akan mengabulkan doa hambaNya. Hal ini sesuai dengan Hadist Qudsi: “ Allah Ta’ala berfirman: “Aku bergantung kepada prasangka hambaKu, apabila ia berprasangka baik kepada-Ku, maka baginya kebaikan, namun jika ia berprasangka buruk kepada-Ku maka baginya keburukan”. (HR.Ahmad)

8. Hanya mengkonsumsi yang halal

Hal ini berkaitan dengan kisah Sa’ad bin Abi Waqqash, sahabat Nabi yang doanya selalu dikabulkan oleh Allah SWT. Itu semua bermula ketika Sa’ad pernah meminta kepada Rosululloh untuk mendoaakan agar doanya mustajab. Sa’ad berkata: ‘Wahai rosululloh , doakan kepada Allah agar doaku mustajab” Lalu Rosululloh bersabda “Wahai Sa’ad, perbaguslah makanmu (dengan yang halal) niscaya doamu terkabul” (HR. Ath-Thabrani). Sejak itu Sa’ad selalu berhati–hati dalam memakan makanan. Alhasil Sa’ad terkenal sebagai orang yang maqbul dalam doanya.

Demikian beberapa hal yang perlu diperhatikan agar doa kita dapat dikabulkan oleh Allah SWT. Namun yang perlu kita ketahui bersama, bahwa jangan sampai kita berputus asa dalam berdoa. Bila kita sudah berdoa sekian lama namun belum dikabulkan oleh Allah SWT. Hal ini mengandung beberapa kemungkinan:

1. Bisa jadi penangguhan terkabulnya doa sebagai peringatan dari allah SWT, agar kita dapat introspeksi dan mawas diri. Mengapa doa kita belum juga dikabulkan. Apakah kita terlalu banyak maksiat dan lupa kepadaNya, atau ada sepotong makanan yang tidak halal di tubuh kita. Pada intinya kita harus terus intropeksi dan memperbaiki diri.

2. Boleh jadi Allah mengabulkan pada sisi yang lain. Karena doanya, Allah menghindarkan dari suatu keburukan yang nilainya sepadan dengan apa yang ia mohon kepada Allah dalam doanya.

3. bisa jadi Allah menangguhkannya untuk tabungan akhirat. Sehingga kebaikannya di akhirat kelak akan bertambah karena doanya yang ditangguhkan Allah.

Terkadang kita berdoa sesuatu yang baik menurut kita namun belum tentu baik menurut Allah SWT sehingga bila Allah tidak mengabulkan doa kita bukan berarti Allah tidak sayang kepada kita. Padahal Allah sangat sayang kepada kita. Sebagaimana firman-Nya dalam Q.S Al-Baqarah:216 yang artinya: ”Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”.

MUKHASABAH


“kematian”

Sebuah episode dalam fragmen kehidupan

Akhi dan ukhti yang dmuliakan Allah SWT. Sebelumnya perkenankan ana bertanya kepada antum dan antunna sekalian. Sudah berapa lamakah antum sekalian menghembuskan nafas di bumi ini? Mungkin jawaban antum dan antunna sekalian beragam ada yang sudah 16, 17 atau mungkin 18 tahun. Bahkan ada yang kurang dari 16 atau lebih dari 19. Tidak masalah antum mau jawab berapa pun, namun yang harus antum jawab sudah berapa banyak karya nyata yang antum buat untuk keluarga, untuk islam, untuk diri antum atau untuk Rob kita Allah SWT. Atau jika antum belum dapat menjawabnya ana akan bertanya lagi, sudah berapa banyak dosa yang antum buat sejak bangun pagi tadi dan sudah berapa banyak amal ibadah yang telah sohib karisma semua lakukan. Coba hitung, ingat–ingat, renungkan dan resapi. Sudahkah sesuai dengan misi kita di dunia ini yaitu beribadah dan mengabdi kepada- Nya?

Sohib karisma yang mulia. Detik-detik waktu telah kita habiskan dalam episode hidup kita. Namun apakah dalam pikiran atau dalam relung jiwa antum dan antunna sekalian terbesit satu keadaan yang mesti kita lalui dalam kehidupan ini. Episode yang menentukan itu adalah kematian. Yang dalam benak kita identik dengan manusia yang sudah uzur ataupun manusia yang terbaring takberdaya di rumah sakit. Sangat jarang digenerasi muda memikirkan kematian. Ya, dalam benak kita kita masih dapat hidup 50 tahun lagi atau pokoknya sampai tua renta. Padahal pada dasarnya kita belum yakin apakah esok masih dapat menatap sang mentari dan melangkahkan kaki. Kita belum yakin wahai akhi dan ukhti. Mungkin hal itulah yang menjadikan kita sombong, tak dapat menghargai orang lain, dan kita lupa pada sang khalik. Kita terninabobokan akan gemerlapnya dunia yang fana ini, terlalu ambisius dan melupakan nilai–nilai moral, etika dalam islam. Kita angkuh, tak peduli dan seakan penguasa dunia ini yang dapat hidup seribu tahun lagi. Kita terbiasa melakukan dosa bahkan kita tak mampu lagi mengingat ganasnya siksa neraka.

Wahai akhi dan ukhti sekalian semua itu disebabkan oleh satu sebab. Ya, hanya satu sebab yaitu kita jarang mengingat kematian. Kita terlalu optimis bahwa kita dapat hidup sampai tua dan kita cenderung menanti sampai tua untuk beribadah bahkan kita melewatkan masa muda kita dengan berfoya–foya. Tak jelas tujuan dan manfaatnya. Ingat dan tanamkan pada pikiran dan relung kalbu paling dalam bahwa kematian dapat menjemput kita kapanpun dan dimanapun. Malaikat izroil selalu siaga menyambut kita. Tinggal kita apakah kita sudah siap atau belum, bila kita waktu kita hidup telah usai. Mungkin dapat nanti, esok, atau lusa. Siapkan bekal kita dengan banyak beramal sholeh dan beribadah kepada–Nya. Selamat bersiap diri dan berbekal!

MUTIARA AL-QUR’AN


Tiap-tiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya.

(Q.S. Ali Imran : 185)

Ayat di atas merupakan sebuah ayat yang menceritakan sebuah perjalanan atau kepergian yang berat. Memang wahai temanku..! Perjalanan ini adalah perjalanan menuju akhirat. Perjalanan yang kita harapkan mempunyai tujuan akhir di surga. Karena keagungan perjalanan ini Rasulullah pernah bersabda :

“Seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.” (Muttafaq’alaih)

Maksudnya demi Allah yang tiada Tuhan yang hendak diibadahi selain Dia. Jika kita mengetahui hakikat kematian dan kedashsyatannya, alam kubur dan kegelapannya, hari kiamat dan segala kesedihannya, shirath (titian) dan segala rintangannya, kemudian jika kita memperhatikan surga dan segala kenikmatannya, neraka dan kobaran apinya, niscaya keadaan kita akan segera berubah.

Akan tetapi terkadang kita lupa atau pura-pura lupa dengan perjalanan tersebut dan malah memilih dunia yang nilainya di sisi Allah tidak lebih dari sehelai syap nyamuk.

Barangkali wahai temanku.. Engkau berada di hadapan kematian ini, malaikat maut tepat di atas kepalamu, nafasmu tersengal, nyawamu meregang, mulutmu terkunci, anggota badanmu lemas, tubuhmu berkeringat, di sekitarmu penuh dengan suara tangisan dan rintihan, sedang engkau dalam kesedihan yang mendalam. Tiada yang dapat menyelamatkan dan menghindarkanmu darinya. Dan apakah kalimat terakhir yang kau ucapkan adalah Laa Ilaa ha Illallah? Lalu apakah engkau akan berubah? Jika surga telah dipersiapkan untukmu, itu terserah engkau yang memiliki hati. Hati yang diciptakan untuk memahami rasa, makna, dan semua yang diberikan di kehidupan ini. Kehidupan yang fana, yang begitu mempesona tetapi tidaklah kekal. Tidak sekekal kehidupan akhirat yang tidak pernah ada mata yang melihat, telinga yang mendengar, dan hati yang merasakan.

NISA’

Teringat Aku

Ketika ku membuka mata

menerawang jauh ke sebuah keranda

mataku pun berkaca-kaca

Ketika ku membuka mata

menerawang jauh ke angkasa

pikirku melayang

surga pun terbayang

Namun, apakah surga layak bagiku

bagi akhwat sepertiku

hatiku menjadi kecil ........

teringat ku akan ........

“Kebanyakan penghuni neraka adalah wanita”

Air mataku mengalir

teringat aku akan keranda itu

sudah tibakah masaku

masa dimana diam beku

masa dimana tak bisa menambah amalku

dimana masa tinggal menuju hisab

masa dimana tinggal menunggu dipukulnya palu

surga ....... atau neraka ........

Puisi diatas mengingatkan kita akan dekatnya kita dengan ajal. Dimana kita tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Dan bait yang perlu kita perhatikan adalah “Kebanyakan penghuni neraka adalah wanita.” Untuk itu hai ....... ukhti ...... marilah kita perbaiki diri menuju ridha Illahi ....... agar tempat terakhir kita kelak adalah surga, Amin Yarobbal’alamin.

Teladan Dan Hikmah

KECERDIKAN UMAR

DALAM MENGUJI GUBERNUR

Umar bin Khattab sering anjangsana ke lapangan untuk menguji kineja para gubernurnya saat mereka sedang menjabat. Umar menanyakan langsung kepada rakyat tentang pribadi para gubernurnya dan kelayakan mereeka memegang kendali pemerintahan.

Suatu hari Umar pergi ke wilayah Hamash dan saat itu Sa’id Ibn ‘Amir al-Jamahi menjadi gubernur diwilayah itu. Umarpun mengumpulkan rakyat Hamash dan bertanya pendapat mereka,”Wahai penduduk Hamash,apa pendapat kalian mengenai gubernur kalian ?” Mereka menjawab, “Kami protes kepadanya karena empat perkara, yaitu : Pertama, dia tidak keluar menemui kami hingga siang hari tiba. Kedua, dia tidak menerima seorangpun dimalam hari, Ketiga, ada satu hari dalam satu bulan dimana ia tidak menemui. Keempat, ia sering tidak sadarkan diri yang membuat dirinya seolah-olah antara hidup dan mati.”

Mendengar keluhan mereka, tidak ada pilihan bagi Umar kecuali mempertemukan Sa’id Ibn ‘Amir dengan mereka. Umar berdoa ,”Ya Allah janganlah Engkau ubah penilaianku kepadanya.” Setelah Sa’id mendengar pengaduan atas dirinya, ia menjawab keluhan mereka,”Aku tidak keluar menemui mereka hingga menjelang siang, karena keluargaku tidak mempunyai seorang pembantu, sehingga aku harus membuat adonan roti dengan tanganku sendiri hingga adonan itu halus. Kemudian aku memasaknya menjadi roti. Setelah itu aku berwudlu dan keluar menemui mereka.

Aku tidak menemui seorang pun di malam hari karena aku menjadikan siang hari untuk rakyatku dan menjadikan malam untuk Allah Azza wa Jalla. Aku mengambil cuti satu hari dalam sebulan karena aku tidak punya pembantu yang bisa mencucikan pakaian. Aku tidak punya pakaian lain untuk diganti sehingga aku harus menunggu pakaianku sampai kering agar dapat aku pakai dan aku baru bisa keluar pada akhir siang [sore]. Aku sering tak sadarkan diri antara hidup dan mati, sebab aku teringat pada suatu peristiwa yang sangat mengesankan.

Aku dulu menyaksikan kematian Khabib Ibnu Uday Al-Anshari. Sungguh orang-orang Quraisy telah menyayat dagingnya kemudian mereka menggantungnya diatas dahan pohon. Mereka menyiksa habis-habisan supaya dia bersedia kafir dengan risalah Muhammad saw. Mereka berkata kepadanya,”Apakah kamu ingin Muhammad yang kamu imani agamanya kami perlakukan seperti dirimu? Ia menjawab dengan lantang, ”Demi Allah, aku tidak ingin hidup diantara keluargaku, jika aku melihat Muhammad saw mengaduh walau hanya karena sakit pada jari-jemarinya.”

Setiap aku mengingat peristiwa yang mengenaskan itu, merasakan rintihan penderitaannya, sedangkan aku tidak mampu berbuat apapun untuk menolong Khabib, karena pada saat itu aku dalam keadaan musyrik, tidak beriman kepada Allah yang Maha Agung dan Nabi-Nya yang mulia, sampai-sampai aku berpikir bahwa Allah tidak akan mengampuni dosaku untuk selamanya karena aku membiarkan peristiwa itu terjadi. Saat aku teringat semua itu aku pingsan tidak sadarkan diri. “Mendengar cerita Sa’id, Umar berkata, ”Segala puji bagi Allah yang tidak mengubah penilaianku atau pandanganku terhadap dirimu.”